Surveilans Faktor Risiko Penyakit Zoonosis Yang Berpotensi KLB


Surveilans faktor risiko penyakit zoonosis yang berpotensi KLB dilaksanakan sebagai bentuk kewaspadaan dini adanya laporan kasus suspek penyakit-penyakit zoonosis yang berpotensi menimbulkan KLB. Mengingat bahwa penyakit zoonosis memiliki potensi menimbulkan KLB/wabah dan juga berimplikasi pada aspek sosial, ekonomi, keamanan, dan kesejahteraan rakyat maka perlu dilakukan surveilans pada penyakit ini. Adapun faktor risiko yang lebih ditekankan pada kegiatan surveilans ini adalah faktor risiko penyakit zoonosis yang terkait lingkungan.

Wilayah Segoroyoso Kecamatan Pleret Kabupaten Bantul merupakan salah satu wilayah di D.I. Yogyakarta yang memiliki kawasan desa sentra ternak dan mensuplay sebagian besar kebutuhan daging di D.I. Yogyakarta. Surveilans Faktor Risiko Penyakit Zoonosis Yang Berpotensi KLB di wilayah tersebut telah dilaksanakan pada Bulan Februari - Maret 2019. Kegiatan diawali dengan koordinasi oleh Kepala Seksi Advokasi dan KLB beserta tim kegiatan Bidang SE ke Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Kabupaten Bantul pada tanggal 14 Februari 2019, untuk berdiskusi mengenai kondisi penyakit zoonosis terkini di Kabupaten Bantul, menyampaikan rencana kegiatan serta menghimpun masukan dan dukungan dalam pelaksanaan surveilans. Tahap selanjutnya yaitu observasi dilakukan pada tanggal 5 Maret 2019. Pada tahap ini dilakukan pengamatan kondisi lingkungan di wilayah Segoroyoso dan mengidentifikasi titik-titik yang memungkinkan memiliki faktor risiko lingkungan penularan penyakit zoonosis, seperti tempat potong hewan (TPH), rumah potong hewan (RPH), kandang ternak, dan daerah hilir sungai.

Tahap pengambilan sampel dilakukan tanggal 12 – 13 Maret 2019. Ada 20 titik pengambilan sampel yaitu 4 TPH, 1 RPH, Kandang Ternak milik Kelompok Ternak Sapi dan Kambing, serta daerah hilir sungai dimana limbah dari kandang dan tempat pemotongan bermuara. Jenis sampel yang diambil adalah usap lantai, tanah, dan air di tempat pemotongan dan kandang ternak. Sampel selanjutnya dikirim ke BBVet Wates tanggal 14 Maret 2019 untuk dilakukan identifikasi bakteri dengan metode kultur bakteri.