Pertemuan Koordinasi Demam Berdarah Dengue, Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Jumat 22 Maret 2019


Lingkungan merupakan agregat dari seluruh kondisi dan pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu organisasi. Salah satu peran lingkungan adalah sebagai reservoir dari berbagai agent dan vektor penyakit. Secara umum lingkungan dibedakan atas lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alamiah yang terdapat di sekitar manusia, sedangkan lingkungan non fisik ialah lingkungan yang muncul akibat adanya interaksi antar manusia.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang sangat erat hubungannya dengan kesehatan lingkungan, sehingga ia disebut juga salah satu penyakit menular yang berbasis lingkungan. Artinya, kejadian dan penularannya dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan. Karena itu upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat harus ditujukan kepada penyehatan lingkungan hidup.

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, yang cenderung semakin luas penyebarannya sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Deman berdarah kerap kali menimbulkan Kejadian Luar Biasa dan mengakibatkan kematian yang tidak sedikit setiap tahun di berbagai daerah Indonesia.

Kesehatan lingkungan dalam aspek kesehatan lingkungan fisik yang berperan dalam penularan penyakit DBD misalnya pekarangan yang tidak bersih, seperti bak mandi yang jarang dikuras, pot bunga, genangan air di berbagai tempat, ban bekas, batok kelapa, potongan bambu, drum, kaleng-kaleng bekas serta botol-botol yang dapat menampung air dalam jangka waktu yang lama, bak mandi, WC, tempayan, drum air, bak menara (tower air) yang tidak tertutup, sumur gali. Sementara dari lingkungan non fisik antaranya adalah keadaan demografi suatu wilayah (kepadatan, mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosial ekonomi penduduk). Biasanya DBD akan menyerang orang-orang yang tinggal di daerah pinggiran, kumuh. Faktor sosial seperti tingkat pendidikan serta ekonomi penduduk turut mempengaruhi perkembangbiakan vektor DBD.

Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta  mempunyai tugas melaksanakan Surveilans epidemiologi, kajian dan penapisan teknologi, laboratorium rujukan, kendali mutu, kalibrasi, pendidikan dan pelatihan, pengembangan model dan teknologi tepat guna, kewaspadaan dini dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) di bidang pemberantasan penyakit menular dan kesehatan lingkungan serta kesehatan matra.

Menindaklanjuti edaran Dirjen P2P Nomor 02.01/IV/355/2019 tentang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DBD dan surat dari Dinas Kesehatan Purworejo tanggal 11 Maret 2019   telah dilaksanakan pertemuan tim TGC dengan kegiatan penyampaian hasil kajian resistensi  dan informasi teknologi tepat guna pengendalian vektor yang diikuti  pengelola program DBD dan sanitarian puskesmas di Wilayah Dinas Kesehatan Jepara tanggal 22 Maret 2019 di Aula Dinas Kesehatan Jepara.Dalam kesempatan ini kepala BBTKL PP Jogjakarta, DR. dr. Irene, MKM memberikan arahan tentang peran BBTKL PP dalam upaya penanggulangan DBD, dilanjutkan dengan pemaparan Kajian-kajian yang dilakukan BBTKL PP Yogyakarta terkait DBD oleh Kabid PTL, Indah Nur Haeni, S.Si, MSc dan dilanjutkan dengan penyampaian hasil kajian tentang monitoring dan resistensi vektor DBD Aedes aegypi oleh Kepala Instalasi Entomologi Yohanes Didik Setiawan, M.Si, M.Sc dan pemanfaatan teknologi tepat guna dalam pengendalian DBD oleh Kepala Instalasi TTG Nur Basuki, ST, MPH diantaranya Sticky Larvae Trap, Mosquito Resting Trap Plus, Electric Killing Insect dan Mosquito Lamp Trap.

BBTKL PP merupakan institusi yang erat dengan pencegahan dan pengendalian penyakit. Sebab, jajaran BTKLPP bertugas untuk mendeteksi berbagai faktor risiko penyakit di seluruh wilayah Indonesia dan memberikan masukan kepada Kementerian Kesehatan dan jajaran Pemda tentang intervensi serta upaya pencegahan dan pengendaliannya. Pada keadaan tertentu, BTKLPP dan Pemda setempat melaksanakan upaya pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyakit secara bersama-sama.

Dengan motto kerja Kaji, Uji, dan Solusi, BBTKL PP memiliki pola kerja deteksi dini terhadap faktor risiko penyakit dalam upaya pencegahan kejadian penyakit dalam upaya pencegahan kejadia penyakit dengan mengembangkan teknologi tepat guna, serta respon cepat terhadap kejadian luar biasa (KLB) dan berbagai bencana yang terjadi di pelosok Nusantara.

Salam Sehat Indonesia

BBTKL PP Yogyakarta, memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan akurat