Sosialisasi Kegiatan Surveilans Leptospirosis di Kabupaten Sleman


Kasus Leptospirosis di DIY meningkat cukup tinggi yaitu dari 116 kasus di Tahun 2016 meningkat menjadi 295 kasus di tahun 2017. Demikian halnya dengan kasus leptospirosis di Kabupaten Sleman tercatat ada 2 kasus di tahun 2016 dengan tidak ada kasus meninggal dan meningkat menjadi 48 kasus di tahun 2017 dengan kematian kasus 10 orang. Hal ini mendorong BBTKLPP Yogyakarta untuk melakukan kegiatan Surveilans Leptospirosis di kabupaten Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran epidemiologi leptospirosis di lokasi kegiatan. Untuk memulai kegiatan, BBTKLPP Yogyakarta dan DKK Sleman menyelenggarakan Sosialisasi kegiatan Surveilans Leptospirosis pada tanggal 25 Mei 2019. Bertempat di Aula POAK Kabupaten Sleman, Pertemuan dihadiri 21 orang peserta terdiri dari struktural dan pengelola program dari DKK Sleman, perwakilan dari Puskesmas Godean I, Godean II, Prambanan dan Moyudan, dan BBTKLPP Yogyakarta. Pertemuan dilaksanakan dengan metode metode paparan, praktek dan diskusi, dengan susunan acara Pembukaan, pengantar Kegiatan Surveilans Leptospirosis,  Penjelasan Teknis Surveilans dan Alur Penemuan Kasus, Penjelasan Teknis Pengambilan dan Pengiriman Darah dan Diskusi.

Acara dimulai dengan Pembukaan oleh kasie P2PM, Dul zaini, S.Kep, disampaikan  bahwa di Tahun 2019 ini ada 6 kasus leptospirosis dengan 1 kematian di Kabupaten Sleman pada bulan Februari. Kasus berasal dari Puskesmas Moyudan, Godean I, Cangkringan dan Minggir. Beberapa upaya telah dilakukan oleh DKK Sleman agar kasus Leptospirosis tidak semakin meningkat di Kabupaten Sleman. Selanjutnya adalah Pengantar Kegiatan Surveilans Leptospirosis disampaikan oleh Kasie Advokasi dan KLB, Dien Arsanti, SKM., M.Env dan dilanjutkan dengan Penjelasan Teknis Surveilans dan Alur Penemuan Kasus oleh dr. Ratna Wijayanti, MPH. Paparan terakhir mengenai Teknis Pengambilan dan Pengiriman Darah oleh Dwi Susilowati, AMAK. Acara dilanjutkan dengan diskusi, yang menghasilkan kesepakatan bahwa kegiatan surveilans leptospirosis akan dilaksanakan selama enam bulan dari Bulan Mei-Oktober 2019. Alat dan Bahan untuk pelaksanaan kegiatan telah diserahkan kepada enam puskesmas terpilih. Sampel yang didapat oleh puskesmas diharapkan dikirim ke BBTKLPP Yogayarta setiap 2 minggu sekali untuk diteruskan ke Laboratorium B2P2VRP Salatiga oleh BBTKLPP Yogyakarta.