Sosialisasi Kegiatan Surveilans Leptospirosis di Kabupaten Boyolali


Kasus Leptospirosis di Jawa Tengah merupakan kasus yang tertinggi dibanding provinsi lainnya. Tahun 2017 tercatat sebanyak 409 kasus yang tersebar se-Jawa Tengah dengan korban meninggal 65 orang dan pada tahun 2018 sedikit meningkat menjadi 427 kasus dengan angka kematian mencapai 89 orang (20%). Kasus Leptospirosis paling banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Demak, Kabupaten Klaten, Kota Semarang, Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Pati. Kabupaten Boyolali bukan merupakan penyumbang kasus leptospirosis terbanyak di wilayah Jawa Tengah, akan tetapi angka kematian meningkat dari tahun ke tahun.  Dari 7 kasus di tahun 2016 dengan tidak ada kasus meninggal, meningkat menjadi 34 kasus di tahun 2017 dengan kematian kasus 9 orang dan sampai dengan bulan April 2019 ini sudah ada 10 kasus dengan kematian kasus 5 orang (CFR 50%). Hal ini mendorong BBTKLPP Yogyakarta untuk melakukan kegiatan Surveilans Leptospirosis di Kabupaten Boyolali. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran epidemiologi leptospirosis di lokasi kegiatan. Untuk memulai kegiatan, BBTKLPP Yogyakarta dan DKK Boyolali menyelenggarakan Sosialisasi kegiatan Surveilans Leptospirosis pada tanggal 30 Mei 2019. Bertempat di Rumah Makan Kedai Padmo Jalan Nangka Gumulan, Jomboran, Kemiri, Mojosongo, Kabupaten Boyolali, pertemuan dihadiri 26 orang peserta terdiri dari struktural dan pengelola program dari DKK Boyolali, perwakilan dari Puskesmas Banyudono I, Puskesmas Banyudono II, Puskesmas Ngemplak, Puskesmas Nogosari, Puskesmas Sambi dan BBTKLPP Yogyakarta.

Pertemuan dilaksanakan dengan metode paparan, praktek dan diskusi, dengan susunan acara Pembukaan, Pengantar Kegiatan Surveilans Leptospirosis,  Penjelasan Teknis Surveilans dan Alur Penemuan Kasus, Penjelasan Teknis Pengambilan dan Pengiriman Darah dan Diskusi. Acara dimulai dengan Pembukaan oleh Kabid P2, dr. Sherly J. Kilapong,  disampaikan  bahwa tren leptospirosis di Kabupaten Boyolali dan angka kematiannya cukup tinggi di daerah bagian selatan. Tahun ini, di Boyolali dilaporkan ada 10 kasus leptospirosis dengan CFR 50%. Harapannya tahun ini segera koordinasi dengan surveilans agar cepat menemukan kasus, pemeriksaan dan terapi lebih dini sehingga kematian tidak meningkat. Selanjutnya adalah Sambutan sebagai Pengantar Kegiatan Surveilans Leptospirosis disampaikan oleh Kepala Bidang SE, Sayekti Udi Utama, SKM., M.Kes. Disampaikan bahwa kegiatan surveilans di Kabupaten Boyolali ini adalah rangkaian kegiatan sebelumnya. Hasil kajian BBTKLPP Yogyakarta tahun 2018 menunjukkan bahwa sangat kuat kasus leptospirosis di lokasi kegiatan ditularkan oleh tikus, dibuktikan dengan serovar pada tikus sama dengan serovar yang ada pada manusia. Sehingga yang perlu diwaspadai adalah potensi bahaya yang perlu diatasi secara bersama-sama oleh karena pada binatang leptospirosis ini tidak menimbulkan penyakit. Acara dilanjutkan dengan Penjelasan Teknis Surveilans dan Alur Penemuan Kasus oleh dr. Dwi Amalia, MPH, Penjelasan tentang tatacara pembuatan surat pertanggungjawaban setiap kegiatan oleh Sukirno, SKM dan paparan terakhir mengenai Teknis Pengambilan dan Pengiriman Darah oleh E. Kristanti, ST., MSc.

Acara dilanjutkan dengan diskusi, yang menghasilkan kesepakatan bahwa kegiatan surveilans leptospirosis akan dilaksanakan selama enam bulan dari Bulan Mei-Oktober 2019. Alat dan Bahan untuk pelaksanaan kegiatan telah diserahkan kepada lima puskesmas terpilih. Sampel yang didapat oleh puskesmas dikirim ke DKK Boyolali setiap 2 minggu sekali untuk diteruskan ke Laboratorium B2P2VRP Salatiga oleh petugas DKK Boyolali.