Pertemuan Pemangku Kepentingan Nasional Hasil Midterm Study Dampak Implementasi Teknology Aedes Aegypti Ber Wolbachia untuk Pengendalian Vektor Dengue, di Grand Aston Yogyakarta


Penelitian efektifitas pengendalian demam berdarah dengue (DBD) melalui  teknologi pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia ke alam (pemukiman penduduk) merupakan penelitian global dan berjangka panjang, dilaksanakan di 12 negara, salah satunya di Indonesia. Penelitian ini dipelopori World Mosquito Program (WMP) yang dulunya bernama Eliminate Dengue Program (EDP). 

Di Indonesia, penelitian  ini dilakukan di wilayah Jogyakarta mulai tahun 2011 hingga tahun 2024 oleh Pusat Kedokteran Tropis UGM dengan nama penelitian WMP Yogyakarta. Tahapan pelaksanaan penelitian ini dibagi atas 4 fase, yaitu: fase 1 untuk uji keamanan dan kelayakan (Oktober 2011 – September 2013)); fase 2, untuk uji pelepasan skala terbatas Ae. aegypti ber-Wolbachia (Oktober 2013 – Desember 2015); fase 3, untuk uji pelepasan skala luas Ae. aegypti ber-Wolbachia (2016 – 2020); dan fase 4 untuk uji model implementasi (2021 - 2024). 

Penelitian WMP Yogya saat ini sedang berada dalam fase 3 (uji pelepasan skala luas Ae. aegypti ber-Wolbachia) untuk membuktikan secara ilmiah apakah pelepasan secara luas Ae. aegypti ber-Wolbachia ke alam efektif menurunkan transmisi infeksi dengue di wilayah intervensi dibanding daerah kontrol.  Dari pelaksanaan penelitian dalam 2 fase sebelumnya telah dihasilkan informasi bahwa teknologi pelepasan Ae. aegypti ber-Wolbachia dinilai layak dan aman (Hasil penelitian fase 1), serta Ae. aegypti ber-Wolbachia yang dilepas ke alam dapat berkembang biak di habitat alami dan memiliki kemampuan menekan replikasi virus dengue di tubuh nyamuk (Hasilpenelitian fase 2).

Dari pelaksanaan fase 3 yang menggunakan 2 rancangan studi secara paralel, yaitu studi Kuasi Eksperimental dengan kelompok pembanding dan studi Cluster Randomized Controlled Trial atau studi Aplplying Wolbachia in Eliminate Dengue (AWED), juga telah dihasilkan informasi hasil sementara, sedangkan hasil penelitian yang lengkap masih dalam proses evaluasi karena pelaksanaan fase 3 berlangsung sampai 2020.

Terkait dengan perolehan hasil penelitian fase 3 maka Tim Peneliti WMP Yogya menyelenggarakan Pertemuan Pemangku Kepentingann Nasional Hasil Midterm Studi Dampak Implementasi Teknologi Nyamuk Ae. aegypti ber-Wolbachia untuk Pengendalian Vektor DBD. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk mendiskusikan dan membangun kesepahaman atas pilihan-pilihn strategis bagi implementasi teknologi pelepasan Ae. aegypti ber-Wolbachia untuk pengendalian vektor dengue berdasarkan pada perkembangan hasil kedua studi disebut di atas (studi Kuasi Eksperimental dan AWED) dan bukti-bukti dari implementasi WPM di negara-negara lain.

Pertemuan “Pemangku Kepentingan Nasional Hasil Midterm Studi Dampak Implementasi Teknologi Pelepasan Nyamuk Ae. aegypti ber-Wolbachia untuk Pengendalian Vektor Dengue” diselenggarakan oleh Pusat Kedoktran Tropis UGM pada tanggal 14 Mei 2019 di Hotel Grand Aston Yogyakarta. Pertemuan dihadiri para pemangku kepentingan (stakeholder) utama dari berbagai institusi terkait, yaitu Kementerian Kesehatan (Ditjen. P2P yaitu BBTKLPP Yogyakarta (DR. dr. Irene, MKM, Sayekti Udi Utama, SKM, M.Kes, DR. Andiatu Sanusi), Kasubdit Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit, Kasubdit. Arbovirosis, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Kapus I), Komli Pengendalian Vektor, BBPPVRP Salatiga dan Balitbang Kelas I Banjarnegara), Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi: Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Lembaga Eijkman, Tim Risk Assessment dan Dewan Riset Nasional, Lembaga dan Asosiasi Nasional: Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Lembaga Internasional dan Donor: WHO Jakarta, Yayasan Tahija, Pemerintah Provinsi DIY (Bappeda, Dinas Kesehatan dan Dewan Riset Daerah), Pemerintah Kota Yogyakarta (Dinas Kesehatan dan Bappeda Kota Yogyakarta), UGM, Fakultas Kedokteran UI, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, WMP Global, WMP Yogyakarta.

Agenda utama pertemuan berupa paparan materi dan diskusi. Informasi utama dari paparan materi, terutama hasil midterm penelitian WMP Yogyakarta bahwa intervensi melalui teknologi pelepasan nyamuk Ae. aegypti ber-Wolbachia telah menurunkan 74% insidensi kasus DBD di daerah intervensi.

Dari temuan penelitian ini tim peneliti optimis mengusulkan ke pemangku kepentingan nasional untuk adopsi pemanfaatan Wolbachia di level nasional sebagai strategi alternatif potensial untuk pengendalian DBD dengan peta jalan menuju adopsi, yaitu melalui perluasan daerah implementasi dan mengharapkan dilaksanakan pertemuan pemangku kebijakan di level nasional.

Selain pemaparan materi dari keempat narasumber di atas, juga disediakan waktu untuk penyampaian tanggapan terhadap pelaksanaan penelitian WMP Yogyakarta. Pada kesempatan pertama, tanggapan disampaikan perwakilan dari pemerintah Kota Yogyakarta, dalam hal ini diwakili Wakil Walikota Yogyakarta. Kesempatan kedua, tanggapan disampaikan perwakilan dari masyarakat. Baik perwakilan pertama maupun kedua, semuanya memberikan tanggapan positif atas pelaksanaan WMP Yogyakarta.

Selanjutnya dilakukan diskusi tentang pelaksanaan umum, hasil midterm dan usulan tim peneliti WMP Yogyakarta tentang perluasan daerah intervensi.

Beberapa masukan dari BBTKL PP Yogyakarta dapat dirangkum sebagai berikut:

  1. Entomolog BBTKLPP Yogyakarta : Tim peneliti perlu memastikan secara valid bahwa penurunan insidens DBD (74%) setelah intervensi adalah benar karena hasil intervensi dengan teknologi Wolbachia, bukan karena faktor lain, mengingat pola penurunan kasus di daerah intervensi sama terjadi di daerah kontrol ().
  2. Kepala BBTKl PP Yogyakarta : Ada 3 hal yang harus diperhatikan yaitu : 1. Pemantauan dan evaluasi nyamuk karena pada RO ini nyamuk tersebut diberi perlakuan, 2. Agar peneliti menghitung BIAS Penelitian penurunan kasus DBD dari faktor lain, misalnya PSN yang sudah dilaksanakan Program, iklim, dll, mengingat openurunan kasus memiliki pola yang sama di daerah kuasi dan di daerah kontrol, 3) Untuk intervensi selanjutnya, jika memungkinkan digunakan Wolbachia strain lokal dalam kerangka cegah tangkal yang mungkin belum terpikirkan selama ini.