Pemeriksaan Faktor Risiko Kecelakaan Lalu Lintas Arus Mudik Lebaran Pada Pengemudi di Kabupaten Sragen


Dalam rangka penyelenggaraan angkutan lebaran terpadu, berdasarkan Instruksi Presiden R.I. No. 3 Tahun 2004 tentang Koordinasi Penyelenggaraan Angkutan Lebaran Terpadu, salah satu tugas dari Kementerian Kesehatan R.I. adalah mendukung pengecekan kesiapan (kesehatan) pengemudi di terminal. Pada Tahun 2019 ini, BBTKLPP Yogyakarta sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kesehatan R.I. melaksanakan Pemeriksaan Faktor Risiko Kecelakaan Lalu Lintas (FR KLL) Arus Mudik Lebaran di Kabupaten Sragen. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 22 - 23 Mei 2019 di Terminal Pilangsari Kabupaten Sragen. Sasaran pemeriksaan FR KLL adalah pengemudi angkutan umum lebaran Antar Kota- Antar Provinsi (AKAP) di terminal Pilangsari yang akan melakukan perjalanan. Pada kegiatan ini BBTKLPP Yogyakarta berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, dan Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Kepolisian Resor Kabupaten Sragen. Sebelum kegiatan dimulai, dilakukan apel siaga yang diikuti oleh seluruh tim yang terlibat.

Kegiatan pemeriksaan FR KLL diawali dengan pemeriksaan fisik kendaraan dan kelengkapan dokumen perjalanan pada PO. Bus yang beroperasi melakukan perjalanan selama masa mudik lebaran oleh Dinas Perhubungan dan Satuan Lalu Lintas Polres Sragen. Pengemudi baik utama maupun cadangan kemudian dilakukan pemeriksaan keseharan antara lain pemeriksaan tekanan darah, gula darah sewaktu, amphetamine dalam urine, dan alkohol pernafasan oleh tim dari BBTKLPP Yogyakarta dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen.

Sebanyak 54 responden berhasil diperiksa, terdiri dari pengemudi Bus AKAP dan AKDP sebanyak 80%, pengemudi angkot 17% dan travel agent 3%. Dari pemeriksaan ini diperoleh hasil 17% responden memiliki tekanan darah kategori hipertensi (> 140/90 mmHg), 24% responden memiliki kadar gula darah sesaat melebihi normal (> 200 mg/dL), dan 9% pengemudi terdeteksi positif alkohol pernafasan yaitu pengemudi Bus AKAP/AKDP. Pada pemeriksaan amphetamine dalam urin, seluruh pengemudi memiliki hasil negatif. Pada pengemudi dengan hasil pemeriksaan kesehatan berisiko diberikan layanan konseling oleh dr. Sri Subekti, M.Kes dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen. Pada konseling ini diperoleh informasi bahwa kandungan alkohol yang terdeteksi pada pengemudi berasal dari obat batuk yang dikonsumsi pengemudi bukan dari minuman keras dan faktor kelelahan serta kurang tidur yang memicu tekanan darah beberapa pengemudi masuk pada kategori hipertensi. Rekomendasi tindak lanjut yang disampaikan untuk meminimalisir risiko KLL antara lain pengemudi diharapkan dapat beristirahat dengan cukup minimal setiap 4 jam perjalanan, kontrol kesehatan secara rutin, dan menjaga stamina. Secara keseluruhan, seluruh pengemudi dinyatakan sehat dan direkomendasikan boleh melanjutkaan perjalanan.