KIE Antraks Pada Masyarakat, Balai Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul


Untuk mencegah penyebaran bakteri antraks di Gunungkidul, Kemenkes (BBTKL PP Yogyakarta, subdit Zoonosis dan subdit Surveilans), Kementan, Dinkes Provinsi, Dinkes Kab / Kota dan Puskesmas dan Pemerintah Kecamatan dan Desa melakukan pertemuan untuk sosialisasi Antraks untuk kewaspadaan dini dan memutus penularan.

Kegiatan ini hadiri oleh BBTKL PP Yogyakarta, Kementerian Kesehatan (Subdit Zoonosis dan Subdit Surveilans), kementerian Pertanian, Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian Provinsi DIY, dinas Kesehatan dan Pertanian Kabupaten gunung Kidul, Muspika Kecamatan Karangmojo (camat, kapolsek, danramil), perangkat desa Bejiharjo, perangkat dusun Grogol 4, puskesmas, puskeswan dan masyarakat Dusun Grogol 4.

Acara dibuka oleh Bapak Camat Karangmojo, Drs. Marwatahadi, M.Si. Dilanjutkan dengan pemaparan Dukuh Grogol 4, Ribut Priyanto yang menjelaskan kronologis kasus Antraks.

Selanjutnya disampaikan materi Antraks pada hewan oleh Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan, drh. Syamsul Ma'arif, MSi yang menyampaikan tentang gejala, penularan dan tatalaksana Antraks pada Hewan.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Kepala BBTKL PP Yogyakarta, DR. dr. Irene, MKM yang menyampaikan tentang gejala, penularan dan tatalaksana Antraks pada manusia, yaitu:

  1. Penyakit Antraks adalah termasuk salah satu penyakit Zoonosa yang disebabkan oleh Bacillus anthracis terutama pada hewan memamah biak (sapi dan kambing). Penyakit Antraks atau disebut juga Radang Lympha, Malignant pustule, Malignant edema, Woolsorters disease, Rag pickers disease, Charbon. Kata Antraks dalam bahasa Inggris berarti Batubara, dalam bahasa Perancis disebut Charbon, kedua kata tersebut digunakan sebagai nama penyakit pada manusia yang ciri utamanya ditandai dengan luka yang rasanya pedih, ditengahnya berwarna hitam seperti batu bara (Christie 1983).
  2. Penyakit Antraks merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menimbulakan wabah, sesuai dengan undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1501 tahun 2010.
  3. Penyakit tersebut pada umumnya menyerang pekerja peternakan, petani, pekerja tempat pemotongan hewan, dokter hewan, pekerja pabrik yang menangani produk-produk hewan yang terkontaminasi oleh spora antraks, misalnya pabrik tekstil, makanan ternak, pupuk, dan sebagainya.
  4. Gejala klinis antraks pada manusia dibagi menjadi 4 bentuk yaitu antraks kulit, antraks saluran pencernaan, antraks paru dan antraks meningitis.

a. Antraks Kulit (Cutaneus Anthrax)

Kejadian antraks kulit mencapai 90% dari keseluruhan kejadian antraks di Indonesia. Masa inkubasi antara 1-5 hari ditandai dengan adanya papula pada inokulasi, rasa gatal tanpa disertai rasa sakit, yang dalam waktu 2-3 hari membesar menjadi vesikel berisi cairan kemerahan, kemudian haemoragik dan menjadi jaringan nekrotik berbentuk ulsera yang ditutupi kerak berwarna hitam, kering yang disebut Eschar (patognomonik). Selain itu ditandai juga dengan demam, sakit kepala dan dapat terjadi pembengkakan lunak pada kelenjar limfe regional. Apabila tidak mendapat pengobatan, angka kematian berkisar 5-20%.

b. Antraks Saluran Pencernaan (Gastrointestinal Anthax)

Masa inkubasi 2-5 hari. Penularan melalui makanan yang tercemar kuman atau spora misal daging, jerohan dari hewan, sayur- sayuran dan sebagainya, yang tidak dimasak dengan sempurna atau pekerja peternakan makan dengan tengan yang kurang bersih yang tercemar kuman atau spora antraks. Penyakit ini dapat berkembang menjadi tingkat yang berat dan berakhir dengan kematian dalam waktu kurang dari 2 hari. Angka kematian tipe ini berkisar 25-75%.

Gejala antraks saluran pencernaan adalah timbulnya rasa sakit perut hebat , mual, muntah, tidak nafsu makan, demam, konstipasi, gastroenteritis akut yang kadang- kadang disertai darah, hematemesis. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pembesaran kelenjar limfe daerah inguinal (lipat paha), perut membesar dan keras, kemudian berkembang menjadi ascites dan oedem scrotum serta sering dijumpai pendarahan gastrointestinal.

c. Antraks Paru-paru (Pulmonary Anthrax

Masa inkubasi : 1-5 hari (biasanya 3-4 hari). Gejala klinis antraks paru-paru sesuaidengan tanda-tanda bronchitis. Dalam waktu 2-4 hari gejala semakin berkembang dengan gangguan respirasi berat, demam, sianosis, dispneu, stridor, keringat berlebihan, detak jantung meningkat, nadi lemah dan cepat. Kematian biasanya terjadi 2-3 hari setelah gejala klinis timbul.

 d. Antraks Meningitis (Meningitis Anthrax)

Terjadi karena komplikasi bentuk antraks yang lain, dimulai dengan adanya lesi primer yang berkembang menjadi meningitis hemoragik dan kematian dapat terjadi antara 1-6 hari. Gambaran klinisnya mirip dengan meningitis purulenta akut yaitu demam, nyeri kepala hebat,kejang-kejang umum,penurunan kesadaran dan kakukuduk.

b. Etiologi

Bacillus anthracis, kuman berbentuk batang ujungnya persegi dengan sudut-sudut tersusun berderet sehingga nampak seperti ruas bambu atau susunan bata, membentuk spora yang bersifat gram positif. Basil bentuk vegetatif bukan merupakan organisme yang kuat, tidak tahan hidup untuk berkompetisi dengan organisme saprofit. Basil Antraks tidak tahan terhadap oksigen, oleh karena itu apabila sudah dikeluarkan dari badan ternak dan jatuh di tempat terbuka, kuman menjadi tidak aktif lagi, kemudian melindungi diri dalam bentuk spora.

Apabila hewan mati karena Antraks dan suhu badannya antara 28 -30 °C, basil antraks tidak akan didapatkan dalam waktu 3-4 hari, tetapi kalau suhu antara 5 -10 °C pembusukan tidak terjadi, basil antraks masih ada selama 3-4 minggu. Basil Antraks dapat keluar dari bangkai hewan dan suhu luar di atas 20°C, kelembaban tinggi basil tersebut cepat berubah menjadi spora yang tahan hidup selama bertahun-tahun. Bila suhu rendah maka basil antraks akan membentuk spora secara perlahan - lahan (Christie 1983).

5. Masa inkubasi dari penyakit antraks adalah 1-7 hari, pada umumnya berkisar antara 2-5 hari.

6. Sumber penyakit antraks adalah hewan ternak herbivora. Manusia terinfeksi antraks melalui kontak dengan tanah, hewan, produk hewan yang tercemar spora antraks. Penularan juga bisa terjadi bila mengkonsumsi daging hewan yang terinfeksi atau menghirup spora dari produk hewan yang sakit seperti kulit dan bulu.

7. Pengobatan Peniciline masih merupakan antibiotika yang paling ampuh, dengan cara pemberian tergantung tipe dan gejala klinisnya, apabila hipersensitif terhadap penicilline dapat diganti dengan tetracycline, chloramphenicol atau erytromicine. Terapi suportif dan simptomatis perlu diberikan, biasanya plasma expander dan regimen vasopresor.

8. Penanggulangan KLB diprioritaskan pada pengobatan dini penderita dengan Pengobatan yang sesuai standar, penanggulangan KLB antraks pada hewan penular serta produk hewan tercemar sehingga terputusnya mata rantai penularan, serta manajemen hewan tersangka dan produk hewan tercemar.

9. Penyuluhan masyarakat tentang antraks dan upaya penanggulangannya. a) Setiap orang yang menderita penyakit dengan gejala-gejala antraks segera berobat ke Puskesmas atau RS terdekat.

b) Perlakuan terhadap jenazah karena antraks mengikuti prinsip pemulasaraan jenazah dengan penyakit menular sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

c) Hewan harus disembelih di Rumah Potong Hewan (RPH) bila dipotong di luar RPH harus mendapat ijin dahulu dari Dinas Peternakan setempat

d) Tidak diperbolehkan menyembelih hewan sakit antraks.

e) Tidak diperbolehkan mengkonsumsi daging yang berasal dari hewan yang sakit antraks.

f) Dilarang membuat atau memproduksi barang-barang yang berasal dari hewan sakit atau matikarenapenyakitantraks.

g) Hewan yang rentan terhadap penyakit antraks seperti sapi, kerbau, kambing, domba, kuda di wilayah endemis antraks secara rutin harus divaksinasi terhadap penyakit antraks. Vaksinasi dilakukan oleh Dinas Peternakan setempat.

10. Pentingnya perilaku PHBS untuk memutus rantai penularan khususnya penggunaan alas kaki, pupuk hewan untuk tanaman hortikultura dan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dan air mengalir serta penggunaan air tanah untuk konsumsi minum atau masak serta mencuci sayur yang dikonsumsi mentah

11. Surveilans Ketat pada KLB Antraks

Pemantauan terhadap perkembangan kasus baru dan kematian akibat antraks menurut bentuk penyakit, waktu mulai sakit, tempat tinggal, dan jenis tempat bekerja. Selain itu perlu juga dilakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus- kasus kesakitan dan kematian pada hewan menurut tempat dan jenis hewan.

12. Kewaspadaan terhadap penyakit Antraks perlu ditingkatkan terutama pada saat menjelang perayaan hari Raya Idul Fitri/Adha, dimana kebutuhan ternak (daging) meningkat sehingga terdapat mobilitas hewan ternak yang cukup tinggi dari dan ke wilayah endemis antraks.

Selanjutnya dilakukan praktek CTPS dan eeika batuk oleh dr. Nuri dari Puskesmas Karangmojo.

Acara ditutup dengan diskusi yang hangat antara masyarakat dengan seluruh narasumber.