Workshop Diagnosis Konfirmasi Laboratorium Penyakit Infeksi Emerging


Penyakit Infeksi Emerging (Penyakit Infem) Adalah penyakit yang muncul dan menyerang suatu populasi untuk pertama kalinya  (new emerging infectious disease) atau telah ada sebelumnya namun meningkat dengan sangat cepat, baik dalam jumlah kasus baru di dalam satu populasi ataupun penyebarannya ke daerah geografis yang baru  (re-emerging infectious disease). Penyakit ini disebabkan oleh Virus, Bakteri atau parasite dan berpotensi menimbulkan KLB, Pandemi atau Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (KKM). Dari beberapa Kejadian Luar Biasa (KLB) yang pernah ditetapkan sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD) oleh WHO sebagiann besar adalah penyakit Infeksi seperti Avian Influenza (H1N1) pada tahun 2009,  Poliomielitis dan Penyakit virus Ebola pada tahun 2014 dan tahun 2016 penyakit Virus Zika, hanya satu yang ditetapkan sebagai KKMMD yang bukan penyakit infeksi pada rentang waktu 2009-2016 yaitu Kebocoran reaktor nuklir pada tahun 2011. Penyakit Infem diantaranya yaitu Poliomielitis, Malaria, Avian Influenza H5N1, Leptospirosis, Hantavirus dan Ebola. Tidak semua penyakit Infem diketahui besaran masalahnya di masyarakat dan jika tidak terdeteksi maka akan menjadi ancaman munculnya KLB.

Hasil rikhus vektora tahun 2015-2018 yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Badan Litbangkes, menemukan pathogen penyebab penyakit Hantavirus di 29 Provinsi dengan Persentase tikus positif Hantavirus di Indonesia sebesar 6,08%, sedangkan di Provinsi Jawa Tengah dan DIY Persentase Tikus Positif Hantavirusnya menduduki peringkat, berturut-turut, ke dua dan tiga di Indonesia. Menindaklanjuti temuan tersebut Direktorat Surveilans Karantina Kesehatan melalui Subdit Penyakit Infem menyelenggarakan workshop diagnosis konfirmasi laboratorium penyakit infeksi emerging. Workshop ini dilaksanakan untuk meningkatkan kewaspadaan dini petugas kesehatan klinisi tentang hantavirus serta meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam penegakan diagnosis Hantavirus berbasis laboratorium yang diperlukan untuk deteksi dini dan merespon terhadap kejadian timbulnya penyakit tersebut. Workshop dilaksanakan di Hotel Grand Wahid Salatiga pada tanggal 24-28 Juni 2019. Peserta pertemuan sejumlah 64 orang terdiri dari UPT Ditjen P2P (B/BTKLPP), dinas kesehatan provinsi dan kabupaten, Puskesmas terkait serta RS dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Banten, Sumatera Selatan, Kota Kupang dan Sulawesi Selatan. Dari BBTKLPP Yogyakarta diwakili oleh Dien Arsanti, SKM., M.Env dari Bidang SE dan Indaryati, S.ST. dari laboratorium Virologi.

Dalam kegiatan workshop tersebut beberapa Materi pertemuan yang disampaikan meliputi :

  1. Kebijakan dan strategi Penyakit Infem oleh Kasubdit PIE, Dit. SKK, Ditjen P2P
  2. Epidemiologi dan deteksi Hantavirus oleh Narsum dari B2P2VRP Salatiga
  3. Sistem surveilans Penyakit Infeksi Emerging disampaikan oleh staf dari Subdit PIE
  4. Hantavirus Infection: Clinical manifestation oleh dr. Muhammad Hussein Gasem, Sp.PD-KPTI,Ph.D.
  5. Pedoman surveilans hantavirus dan pengisian formulir surveilans deteksi hantavirus oleh Kasubdit PIE, Dit. SKK, Ditjen P2P
  6. Praktek identifikasi Hantavirus dengan metode biomolekuler di Laboratorium Virologi B2P2VRP Salatiga

Metode penyampaian materi dilaksanakan dengan cara ceramah, diskusi dan praktek. Pada hari pertama dan kedua dilakukan penyampaian materi secara ceramah di ruang pertemuan Hotel Grand Wahid Salatiga, yang diikuti oleh seluruh peserta pertemuan, dilanjutkan hari ketiga peserta yang berasal dari laboratorium melakukan praktek identifikasi hantavirus di Laboratorium B2P2VRP Salatiga sedangkan peserta yang lain mengikuti materi di ruang pertemuan Hotel Grand Wahid salatiga. Agenda hari keempat yaitu kunjungan ke B2P2VRP Salatiga untuk mengetahui proses deteksi virus di Laboratorium serta mengenal berbagai vector dan rodent yang dapat menyebarkan penyakit Infem.

Sebagai tindak lanjut dari workshop ini diharapkan RS, Puskesmas dan B/BTKLPP yang mempunyai wilayah sentinel leptospirosis melakukan surveilans syndrome untuk penyakit Hantavirus.  Semua sampel dari kasus leptospirosis yang juga dicurigai sebagai kasus hantavirus diambil sampelnya berupa serum untuk kemudian dikirim ke laboratorium yang ditunjuk. Diharapkan dengan adanya surveilans syndrome mandiri yang dilakukan oleh RS, puskesmas atau B/BTKLPP tersebut akan diperoleh gambaran besaran kasus penyakit Hantavirus di masyarakat sebagai dasar bagi Subdit PIE untuk menyusun program pencegahan dan pengendalian penyakit Hantavirus