Pertemuan Deteksi Dini Kasus Hantavirus


Infeksi hantavirus belum banyak dikenal oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat Indonesia pada umumnya.  Namun demikian, berdasarkan hasil Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit (Rikhus Vektora) yang diselenggarakan oleh B2P2VRP Salatiga, reservoir hantavirus ditemukan di 27 provinsi lokasi riset tersebut. Selain itu, beberapa penelitian melaporkan terjadinya infeksi hantavirus di Indonesia, walaupun besaran masalah yang sebenarnya belum dapat diidentifikasi karena deteksi hantavirus harus dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium. Untuk mengidentifikasi besaran masalah infeksi hantavirus di Indonesia, Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan melalui Subdit Penyakit Infeksi Emerging (PIE) berencana melakukan surveilans hantavirus. Untuk itu, pada tanggal 29-30 Juli 2019 dilaksanakan Pertemuan Deteksi Dini Kasus Hantavirus di Hotel Santika Yogyakarta. Pertemuan dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Kesehatan  DIY, lima Dinas Kesehatan Kota/Kab di DIY, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan beberapa dinas kesehatan kabupaten di Jawa Timur, serta beberapa perwakilan puskesmas di DIY. BBTKLPP Yogyakarta diwakili oleh Kabid PTL, Ibu Indah Nur Haeni, S.Si., M.Sc dan fungsional epidemiolog dr. Dwi Amalia, M.P.H. Pertemuan dibuka oleh Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Prov. DIY, drh. Berty Murtiningsih, M.Kes mewakili Kepala Dinas Kesehatan DIY. Materi pertama dengan paparan dari Kasubdit PIE, tentang Kebijakan dan Strategi PIE.  Selanjutnya  materi mengenai Gambaran Klinis dan Tatalaksana Infeksi Hantavirus oleh Prof. dr. M. Hussein Gasem, Ph.D., Sp.D., KPTI, Epidemiologi dan Deteksi Dini Hantavirus oleh Arif Mulyono S.Si., M.Si., dan Pedoman Surveilans Hantavirus dan Surveilans Sindrom dari  Subdit PIE.

Menindaklanjuti pertemuan ini, akan dilaksanakan surveilans hantavirus di DIY yang melibatkan BBTKLPP Yogyakarta sebagai pemeriksa spesimen, dengan target pemeriksaan 100 spesimen hantavirus. Oleh karena gejala klinis awal infeksi hantavirus menyerupai gejala penyakit lainnya, spesimen pemeriksaan didapatkan dari kegiatan yang sudah berlangsung, yaitu  Sistem Surveilans Sentinel Arbovirosis (S3A) dan Surveilans Leptospirosis. Selain itu, puskesmas yang hadir dalam pertemuan tersebut dipersilahkan  untuk mengirimkan spesimen suspek leptospirosis ke BBTKLPP Yogyakarta untuk konfirmasi leptospirosis dan dilanjutkan dengan hantavirus. Identifikasi hantavirus di BBTKLPP Yogyakarta dilakukan menggunakan metode PCR.