Kajian Faktor Risiko Lingkungan Penyakit Antraks, Desa Ketro, Kecamatan Tenon, Kabupaten Sragen


Pada tanggal 7 Agustus 2019 dilakukan pengumpulan data untuk Kajian Faktor Risiko Lingkungan Penyakit Antraks, dengan cara pengambilan sampel lingkungan berupa tanah tempat menyembelih hewan, tanah tempat mencacah hewan, tanah di sekitar waduk tempat membuang ternak hewan dan tanah kandang ternak pada masing-masing lokasi sebanyak 20 titik yang nantinya akan dikomposit dan diperiksa serta wawancara kepada penduduk sekitar untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang keberadaan kuburan bangkai atau sisa dari hewan ternak yang ada disekitar tempat tinggalnya. Pengambilan dan pemeriksaan sampel lingkungan dilakukan oleh petugas BBVet Wates.

Tujuan dari kajian ini secara umum adalah untuk memperoleh peta sebaran faktor risiko lingkungan penyakit antraks di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah pada tahun 2019.

Kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan informasi mengenai kesiapsiagaan petugas dan masyarakat dalam rangka kewaspadaan dini penyakit antraks di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, sehingga masyarakat serta pihak-pihak yang berwenang dapat menindaklanjuti dan mengevaluasi upaya kewaspadaan dini pencegahan dan pengendalian penyakit antraks.

Kegiatan diawali dengan koordinasi kembali dan tim BBTKL PP Yogyakarta, Kepala BBTKL PP Yogyakarta, DR. dr. Irene, MKM bersama Kabid Surveilans Epidemiologi, Sayekti Udi Utama, SKM, M.Kes dan Tim Kajian yang terdiri dari Mieng Nova Sutopo, SKM, M.Kes, Dr. Hadi Sumanta, M. Kes, dr. Nur Subagyo HS, MPH dan Endang dari BBVET Wates. Tim diterima langsung oleh Kepala Dinas Kabupaten Sragen, dr. Hargiyanto, M.Kes didampingi Kepala Bidang P2P, dr. Agus Sudarmanto, M.Kes dan Kasi P2PM M.M. Sumiyati, SKM.

Selanjutnya dilakukan pertemuan dengan Perangkat Desa dan Kecamatan sebelum tim turun ke lapangan. acara dilaksanakan di Kantor Desa Katro, yang dihadiri oleh Tim BBTKL PP Yogyakarta, Tim Dinkes Kabupaten Sragen, Tim Puskesmas Tenon II yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas Tanon II Triyanta, SKM, Kepala Desa Katro, Muspika Kecamatan Tanon yang terdiri dari Kapolsek Heru Budiarto, SH, MH, Danramil Wariyo, dan Sekretaris Camat Tanon. Selanjutnya tim melakukan pengambilan sampel di lapangan.

Gambaran umum Antraks atau anthrax adalah penyakit menular akut yang disebabkan bakteria Bacillus anthracis dan sangat mematikan dalam bentuknya yang paling ganas. Antraks paling sering menyerang herbivora-herbivora liar dan yang telah dijinakkan, namun juga dapat menjangkiti manusia karena terekspos hewan-hewan yang telah dijangkiti, jaringan hewan yang tertular, atau spora antraks dalam kadar tinggi. Meskipun begitu, hingga kini belum ada kasus manusia tertular melalui sentuhan atau kontak dengan orang yang mengidap antraks.

Antraks biasa ditularkan kepada manusia karena disebabkan pengeksposan pekerjaan kepada hewan yang sakit atau hasil ternakan seperti kulit dan daging, atau memakan daging hewan yang tertular antraks. Selain itu, penularan juga dapat terjadi bila seseorang menghirup spora dari produk hewan yang sakit misalnya kulit atau bulu yang dikeringkan, atau dari tanah kuburan ternak yang terbongkar. Spora B. Anthrac dapat bertahan di dalam tanah dalam waktu yang cukup lama dengan rata-rata hingga 60 tahun. Penanganan penguburan ternak yang mati akibat antraks yang kurang tepat sangat berisiko sebagai sumber penularan penyakit antraks bagi hewan ternak dan manusia jika tanah kuburan tersebut baik secara sengaja maupun tidak sengaja terbongkar dan spora bakteri Anthrak terlepas ke permukaan tanah.
Kasus Antraks di Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah terjada pada tahun 2010 di Desa Katro Kecamatan Tenon Kabupaten Sragen, dengan sumber penularan yang tidak diketahui secara pasti.

Mobilitas ternak antar kabupaten dari wilayah Jawa Tengah ke DIY dan sebaliknya sangat dimungkinkan, hal ini berkaitan dengan kebutuhan masyarakat akan konsumsi daging yang terus meningkat. Mobilitas ternak dan atau daging ternak yang tidak terpantau kesehatannya sangat berpotensi untuk terjadinya penularan penyakit antraks pada hewan ternak maupun pada manusia. Disamping itu ada kemungkinan terbongkarnya tanah kuburan ternak terjangkit anthrak karena kuburan ternak tersebut sudah terlupakan.

Pencegahan dan pengendalian penyakit antraks dapat dilakukan secara terpadu antar instansi maupun lintas program. Kesiapsiagaan petugas kesehatan dan masyarakat tentang penyakit antraks perlu selalu ditingkatkan khususnya di wilayah yang pernah terjangkit antrak atau terduga Antrak yaitu Kabupaten Kulon Progo, Sleman, dan Gunungkidul untuk wilayah D.I. Yogyakarta, Kabupaten Sragen, Boyolali, dan Kab. Semarang untuk wilayah Provinsi Jawa Tengah

Untuk itu BBTKLPP Yogyakarta sebagai salah satu unit pelaksana teknis di bidang teknik kesehatan lingkungan dan pengendalian penyakit di lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang berada di bawah koordinasi dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dengan wilayah kerja D.I. Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah dengansalah satu tupoksinya adalah melakukan kajian dan evaluasi pengendalian penyakit menular,  pada tahun 2019 bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Sragen, Jawa Tengah, BBVet Wates, Puskesmas Tanon II dan Masyarakat, melaksanakan kegiatan kajian dalam rangka sistem kewaspadaaan dini dan pengendalian penyakit zoonosa khususnya penyakit Antraxs.