Sosialisasi Bencana dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul


Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU No. 24 Tahun 2007).

Untuk mengetahui bagaimana mengatasi jika terjadi bencana maka pada tanggal 31 Januari 2020 diadakan Sosialisasi dari BPBD. Acara dilaksanakan di gedung BBTKLPP Yogyakarta, Jl. Imogiri Timur Km. 7,8 Grojogan, Wirokerten, Banguntapan, Bantul yang dihadiri oleh pejabat struktural, personil laboratorium, Instalasi Pelayanan Teknik,  Instalasi Sarana Prasarana dan Satpam. Narasumber dari BPBD Kabupaten Bantul, Ibu Wahyu Nur Rofi dan Bapak Muh. Khamdani.

Materi pertama disampaikan oleh Ibu Wahyu Nur Rofi. Terlebih dahulu diperkenalkan tentang BPBD yang terdiri dari tiga satuan tugas yaitu Pusdalops, PBK/Damkar dan Tim Reaksi Cepat (TRC). Pusdalops bertugas mengendalikan semua pelayanan yang ada di BPBD. Nomor emergency yang bisa dihubungi adalah 112. Pusdalops siap siaga 24 jam, 7 hari.

PBK/Damkar di Bantul ada 7 pos yaitu di Kasihan, Banguntapan, Imogiri, Sumuran (pos induk), Sedayu, Pundong, dan Piyungan.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan tim BPBD di gedung laboratorium, ancaman yang mungkin timbul adalah gempa bumi (sesuai dengan kajian wilayah) dan kebakaran (bisa timbul dari peralatan laboratorium, bahan-bahan kimia, sistem perpipaan gas). Kerentanan yang dimiliki adalah  kerentanan (struktural dan non struktural), kapasitas (struktural dan non struktural). Ancaman akan mempunyai risiko tinggi jika kerentanan tinggi dan kapasitas rendah.

Rekomendasi dari BPBD untuk BBTKLPP Yogyakarta adalah :

1. Struktural

     - Pintu otomatis, sign jalur bebas hambatan

     - Pintu darurat, alternatif pintu dari pintu    

        otomatis

     - 70% ruangan lantai berbahan kaca dan 

        partisi, diletakkan furniture atau benda 

        keras yang dimungkinkan untuk berlindung 

        ketika terjadi kondisi darurat

     - Perkuatan tangga darurat

2. Non struktural

     - Penyusunan rencana kontingensi

     - Pelatihan teknik penyelamatan untuk 

        karyawan

     - Simulasi

     - Penyusunan SOP masing-masing bagian/ 

        lantai

Tanda-tanda yang harus dipasang : jalur evakuasi dan larangan meletakkan barang-barang di tempat-tempat sarana emergency (jalur evakuasi, APAR, Assembly Point).

Paparan kedua oleh Bapak Muh. Khamdani tentang Sistem Proteksi Kebakaran Gedung. Yang harus disiapkan untuk mengantisipasi jika terjadi bencana : sarana penyelamatan jiwa (koridor, pintu darurat, tangga darurat, ramp, tanda petunjuk arah, genset), proteksi kebakaran pasif (misalnya: sistem kompartemensasi, sarana dan sistem pengendali asap dan api, pemilihan material gedung), proteksi kebakaran aktif (sistem deteksi dini, proteksi kebakaran api awal, proteksi penyebaran kebakaran), akses pemadam kebakaran, denah sistem manajemen gedung, membentuk tim penanggulangan kebakaran gedung, membuat rencana penanggulangan keadaan bahaya kebakaran, pelatihan dan simulasi kebakaran serta pengujian sarana proteksi kebakaran secara berkala.

Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan semua pegawai paham apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana. Meskipun tidak diharapkan tetapi kita harus selalu siap. Rekomendasi yang disampaikan BPBD akan segera ditindaklanjuti untuk meningkatkan keamanan gedung laboratorium.